PESANTREN BINA MENTAL
MADRASAH DINIYAH AL JAWWAD
#03
QS. Al-Ikhlas (112:1–4) adalah surah Makkiyah yang menegaskan inti ajaran tauhid. Dalam Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rashid Rida, surah ini dijelaskan sebagai pemurnian keimanan dari segala bentuk syirik dan kesalahpahaman tentang hakikat Allah.
Teks QS. Al-Ikhlas
- Qul huwa Allahu ahad
- Allāhuṣ-ṣamad
- Lam yalid wa lam yūlad
- Wa lam yakun lahu kufuwan ahad
Pokok Tafsir Menurut Tafsir al-Manar
1. “Qul Huwa Allahu Ahad”
Kata Ahad menurut al-Manar bukan sekadar “satu” secara bilangan, tetapi Esa secara mutlak — tidak terbagi, tidak tersusun, dan tidak memiliki sekutu.
👉 Ini menolak segala bentuk kemusyrikan dan konsep trinitas atau pembagian ketuhanan.
2. “Allahuṣ-Ṣamad”
Makna As-Ṣamad dijelaskan sebagai Dzat yang menjadi tempat bergantung segala sesuatu, namun tidak bergantung kepada siapa pun.
Allah sempurna, tidak membutuhkan makhluk, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
3. “Lam Yalid wa Lam Yūlad”
Al-Manar menegaskan bahwa ayat ini membantah anggapan bahwa Allah memiliki anak atau berasal dari sesuatu.
Konsep “melahirkan” dan “dilahirkan” adalah sifat makhluk yang terbatas dan bergantung.
4. “Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad”
Tidak ada sesuatu pun yang sebanding atau setara dengan Allah.
Menurut al-Manar, ayat ini menutup seluruh kemungkinan penyamaan Allah dengan makhluk, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan.
Inti Pesan Tafsir al-Manar QS. Al-Ikhlas
Surah Al-Ikhlas adalah deklarasi kemurnian tauhid:
- Allah Esa secara mutlak.
- Allah tempat bergantung segala sesuatu.
- Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.
- Tidak ada yang setara dengan-Nya.
Tafsir al-Manar menekankan pendekatan rasional dan teologis bahwa tauhid bukan hanya keyakinan spiritual, tetapi juga dasar pembebasan manusia dari ketergantungan kepada selain Allah.


0 komentar:
Post a Comment