PESANTREN BINA MENTAL

MADRASAH DINIYAH AL JAWWAD

#05


Menurut Tafsir Al Manar QS. An-Nasr adalah surah yang turun menjelang akhir kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, surah ini tidak hanya berbicara tentang kemenangan lahiriah, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang mendalam.


Ketika Allah berfirman:

“Idzā jā’a naṣrullāhi wal-fatḥ”
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan

Menurut al-Manar, yang dimaksud dengan pertolongan (naṣr) adalah dukungan Ilahi yang nyata terhadap dakwah Islam, sedangkan “al-fatḥ” merujuk pada Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). Kemenangan ini bukan semata hasil strategi manusia, tetapi bukti bahwa dakwah yang berlandaskan kebenaran akan mendapatkan pertolongan Allah pada waktunya.

“Wa ra’aytan-nāsa yadkhulūna fī dīnillāhi afwājā”
Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah secara berbondong-bondong

Al-Manar menekankan bahwa kemenangan sejati bukanlah penaklukan wilayah, tetapi perubahan hati manusia. Setelah Fathu Makkah, masyarakat Arab masuk Islam secara luas karena mereka melihat bukti nyata kebenaran risalah Nabi. Ini menunjukkan bahwa dakwah yang sabar, konsisten, dan berakhlak mulia pada akhirnya akan melunakkan hati manusia.

“Fa sabbiḥ biḥamdi rabbika wastaghfirh, innahu kāna tawwābā”
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

Di sinilah pesan terdalam surah ini. Menurut Tafsir al-Manar, ketika kemenangan telah diraih, seorang mukmin tidak boleh larut dalam kebanggaan. Justru ia diperintahkan untuk:

  • Bertasbih (mensucikan Allah) → menyadari bahwa semua kemenangan berasal dari-Nya.
  • Memuji Allah → mengakui karunia dan pertolongan-Nya.
  • Beristighfar → tetap rendah hati dan merasa belum sempurna dalam beramal.

Al-Manar juga memandang surah ini sebagai isyarat bahwa tugas Rasulullah hampir selesai. Setelah risalah sempurna dan kemenangan tercapai, beliau diperintahkan memperbanyak tasbih dan istighfar sebagai persiapan menuju perjumpaan dengan Allah.

Kesimpulan Tafsir al-Manar QS. An-Nasr

Surah An-Nasr mengajarkan bahwa:

  • Kemenangan sejati datang dari Allah.
  • Keberhasilan dakwah adalah perubahan hati manusia.
  • Saat berada di puncak keberhasilan, seorang mukmin harus semakin rendah hati.
  • Setiap pencapaian harus diakhiri dengan tasbih dan istighfar, bukan kesombongan. @maz

 


PESANTREN BINA MENTAL

MADRASAH DINIYAH AL JAWWAD

#04


Tafsir QS. Al-Lahab adalah surah yang menegaskan kehancuran Abu Lahab sebagai simbol perlawanan terhadap dakwah tauhid.


1. “Tabbat Yadā Abī Lahab wa Tabb”

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa.Menurut Tafsir al-Manar, ayat ini bukan sekadar doa kebinasaan, tetapi pernyataan pasti tentang kehancuran orang yang memusuhi kebenaran“Dua tangan” melambangkan usaha dan kekuatan. Artinya, seluruh kekuatan dan upaya Abu Lahab untuk menghalangi dakwah Nabi akan gagal total.

👉 Ini menunjukkan bahwa kekuatan materi dan status sosial tidak dapat mengalahkan kebenaran.

2. “Mā Aghnā ‘Anhu Māluhu wa Mā Kasab”

Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang ia usahakan.

Al-Manar menegaskan bahwa harta dan kedudukan tidak dapat menyelamatkan seseorang dari azab Allah jika ia menolak kebenaran.
Abu Lahab adalah orang kaya dan terpandang, namun kekayaannya tidak memberi manfaat sedikit pun di hadapan Allah.

👉 Surah ini mengkritik kesombongan berbasis harta dan kekuasaan.

3. “Sa-Yaṣlā Nāran Dhāta Lahab”

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.Api yang menyala-nyala digambarkan sesuai dengan julukannya “Lahab” (api).Menurut al-Manar, ini adalah bentuk balasan yang setimpal atas permusuhan dan kebenciannya terhadap risalah Islam.

4. “Wa Imra’atuhu Ḥammālatal-Ḥaṭab”

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Istrinya (Ummu Jamil) ikut aktif menyebarkan kebencian dan fitnah. “Pembawa kayu bakar” menurut al-Manar bisa bermakna:

  • Secara harfiah: menyakiti Nabi dengan meletakkan duri di jalan.
  • Secara kiasan: menyulut api permusuhan dan provokasi.

👉 Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap kezaliman juga mendapat konsekuensi.

5. “Fī Jīdihā Ḥablun Min Masad”

Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. Tali ini melambangkan kehinaan dan siksa yang sesuai dengan perbuatannya. Dalam tafsir al-Manar, ini juga simbol bahwa orang yang menjerat orang lain dengan kebencian, pada akhirnya akan terjerat oleh perbuatannya sendiri.

Kesimpulan Tafsir

Surah Al-Lahab adalah pelajaran bahwa:

  • Permusuhan terhadap kebenaran pasti berakhir dengan kehancuran.
  • Harta dan kedudukan tidak menyelamatkan dari azab.
  • Kezaliman yang dilakukan bersama-sama tetap mendapat balasan.
  • Kebenaran akan tetap tegak meskipun ditentang oleh orang terdekat sekalipun. @maz

 


PESANTREN BINA MENTAL

MADRASAH DINIYAH AL JAWWAD

#03


QS. Al-Ikhlas (112:1–4) adalah surah Makkiyah yang menegaskan inti ajaran tauhid. Dalam Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rashid Rida, surah ini dijelaskan sebagai pemurnian keimanan dari segala bentuk syirik dan kesalahpahaman tentang hakikat Allah.


Teks QS. Al-Ikhlas

  1. Qul huwa Allahu ahad
  2. Allāhuṣ-ṣamad
  3. Lam yalid wa lam yūlad
  4. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad


Pokok Tafsir Menurut Tafsir al-Manar

1. “Qul Huwa Allahu Ahad”

Kata Ahad menurut al-Manar bukan sekadar “satu” secara bilangan, tetapi Esa secara mutlak — tidak terbagi, tidak tersusun, dan tidak memiliki sekutu.
👉 Ini menolak segala bentuk kemusyrikan dan konsep trinitas atau pembagian ketuhanan.

2. “Allahuṣ-Ṣamad”

Makna As-Ṣamad dijelaskan sebagai Dzat yang menjadi tempat bergantung segala sesuatu, namun tidak bergantung kepada siapa pun.
Allah sempurna, tidak membutuhkan makhluk, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.

3. “Lam Yalid wa Lam Yūlad”

Al-Manar menegaskan bahwa ayat ini membantah anggapan bahwa Allah memiliki anak atau berasal dari sesuatu.
Konsep “melahirkan” dan “dilahirkan” adalah sifat makhluk yang terbatas dan bergantung.

4. “Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad”

Tidak ada sesuatu pun yang sebanding atau setara dengan Allah.
Menurut al-Manar, ayat ini menutup seluruh kemungkinan penyamaan Allah dengan makhluk, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan.

Inti Pesan Tafsir al-Manar QS. Al-Ikhlas

Surah Al-Ikhlas adalah deklarasi kemurnian tauhid:

  • Allah Esa secara mutlak.
  • Allah tempat bergantung segala sesuatu.
  • Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.
  • Tidak ada yang setara dengan-Nya.

Tafsir al-Manar menekankan pendekatan rasional dan teologis bahwa tauhid bukan hanya keyakinan spiritual, tetapi juga dasar pembebasan manusia dari ketergantungan kepada selain Allah.

 



PESANTREN BINA MENTAL

MADRASAH DINIYAH AL JAWWAD

#02


QS. Al-Falaq (113:1–5) termasuk surah Makkiyah dan merupakan bagian dari Al-Mu’awwidzatain (dua surah perlindungan). Dalam Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rashid Rida, surah ini dijelaskan sebagai doa perlindungan dari kejahatan eksternal yang nyata maupun tersembunyi.


Teks Surah Al-Falaq

  1. Qul a‘ūdzu birabbil-falaq

  2. Min syarri mā khalaq

  3. Wa min syarri ghāsiqin idzā waqab

  4. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad

  5. Wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad


Pokok Tafsir Menurut Tafsir al-Manar

1. “Rabbil-Falaq” (Tuhan Subuh / Pencipta Cahaya)

Al-Manar menjelaskan bahwa al-falaq berarti sesuatu yang terbelah, khususnya terbitnya fajar dari kegelapan malam. Maknanya simbolis: Allah adalah Tuhan yang membelah kegelapan dengan cahaya.
👉 Ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang mampu menghilangkan kesulitan dan bahaya.

2. “Min Syarri Ma Khalaq” (Dari Kejahatan Makhluk-Nya)

Menurut al-Manar, ayat ini bersifat umum. Semua makhluk berpotensi membawa keburukan jika disalahgunakan.
Namun keburukan bukan berasal dari penciptaan itu sendiri, melainkan dari penyimpangan atau penyalahgunaan.

3. “Ghasqin Idza Waqab” (Kegelapan Malam Ketika Telah Pekat)

Al-Manar menjelaskan bahwa malam sering menjadi waktu munculnya kejahatan, rasa takut, dan gangguan.
Maknanya bukan menakuti malam itu sendiri, tetapi menunjukkan bahwa kondisi gelap sering dimanfaatkan untuk keburukan.

4. “An-Naffatsat fil ‘Uqad” (Peniup pada Bujul-Bujul)

Secara konteks, ini merujuk pada praktik sihir.
Dalam pendekatan rasional Tafsir al-Manar, hal ini dipahami sebagai bentuk manipulasi psikologis atau upaya jahat yang dilakukan secara tersembunyi untuk merusak orang lain.

5. “Hasid Idza Hasad” (Orang yang Dengki Ketika Ia Dengki)

Menurut al-Manar, hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat mendorong tindakan zalim.
Kedengkian bukan sekadar perasaan, tetapi dapat berubah menjadi tindakan nyata yang merugikan.

Perbedaan Nuansa dengan QS. An-Naas

  • QS. Al-Falaq → perlindungan dari kejahatan luar (eksternal).
  • QS. An-Naas → perlindungan dari bisikan batin (internal/psikologis).

Keduanya saling melengkapi sebagai perlindungan menyeluruh bagi manusia.

Kesimpulan Tafsir al-Manar

QS. Al-Falaq mengajarkan bahwa manusia harus berlindung kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan nyata: kejahatan makhluk, kegelapan, sihir/manipulasi, dan kedengkian. Tafsir al-Manar menekankan pendekatan rasional—bahwa ayat-ayat ini mengajarkan kewaspadaan terhadap bahaya sosial dan psikologis, serta pentingnya ketergantungan penuh kepada Allah sebagai pelindung. @maz


PESANTREN BINA MENTAL

MADRASAH DINIYAH AL JAWWAD

#01

QS. An-Naas (114:1–6) adalah surah terakhir dalam Al-Qur’an yang termasuk golongan Makkiyah. Dalam Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rashid Rida, surah ini dijelaskan sebagai doa perlindungan dari kejahatan yang bersifat batin dan tersembunyi, terutama godaan setan yang memengaruhi jiwa manusia.


Teks Surah An-Naas

  1. Qul a‘ūdzu birabbin-nās
  2. Malikin-nās
  3. Ilāhin-nās
  4. Min syarril-waswāsil-khannās
  5. Alladzī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās
  6. Minal-jinnati wan-nās


Pokok Tafsir Menurut Tafsir al-Manar

1. Pengulangan Kata “An-Naas” (Manusia)

Menurut Tafsir al-Manar, pengulangan kata an-naas menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi kebaikan dan keburukan, serta menjadi sasaran utama godaan. Surah ini menekankan bahwa perlindungan dibutuhkan oleh semua manusia tanpa kecuali.

2. Tiga Sifat Allah: Rabb, Malik, Ilah

Dalam tafsirnya dijelaskan bahwa tiga sifat ini memiliki makna yang berurutan dan mendalam:

  • Rabb an-naas (Tuhan/Pemelihara manusia); Menunjukkan Allah sebagai pendidik, pembimbing, dan pemelihara manusia sejak lahir hingga akhir hayat.
  • Malik an-naas (Raja manusia); Menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak atas manusia; hanya Dia yang memiliki otoritas penuh.
  • Ilah an-naas (Sesembahan manusia): Menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Menurut al-Manar, penyebutan bertahap ini memperkuat kesadaran tauhid: Allah adalah satu-satunya pelindung dari segala bentuk kejahatan.

3. Makna “Al-Waswas Al-Khannas”

  • Al-waswas: bisikan halus yang menggoda manusia menuju keburukan.
  • Al-khannas: yang bersembunyi dan mundur ketika disebut nama Allah.

Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa setan bekerja melalui pengaruh psikologis—membisikkan pikiran jahat, keraguan, dan dorongan negatif dalam hati manusia. Namun, kekuatannya lemah dan akan mundur jika manusia mengingat Allah.

4. “Alladzi Yuwaswisu Fi Sudurin Naas”

Bisikan itu terjadi di dalam dada (hati), bukan melalui paksaan fisik. Menurut al-Manar, ini menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki kebebasan memilih; setan hanya mengajak, bukan memaksa.

5. “Minal Jinnati wan Naas”

Tafsir al-Manar menegaskan bahwa godaan tidak hanya datang dari jin, tetapi juga dari manusia. Artinya, pengaruh buruk bisa berasal dari lingkungan sosial, propaganda, atau orang-orang yang menyesatkan.

Kesimpulan Tafsir al-Manar atas QS. An-Naas

Surah An-Naas adalah doa perlindungan dari kejahatan batin yang tersembunyi. Tafsir al-Manar menekankan pendekatan rasional dan psikologis: setan bekerja melalui sugesti dan bisikan, sementara kekuatan iman dan kesadaran tauhid menjadi benteng utama bagi manusia. @maz



Di PPIT Al Jawwad, pendidikan bukan sekadar proses belajar di dalam kelas. Pendidikan adalah perjalanan jiwa. Perjalanan untuk membentuk manusia yang utuh — yang hatinya hidup, tangannya ringan berbagi, dan jiwanya tangguh menghadapi kehidupan.

🌿 Cinta

Kami memulai segalanya dari cinta.

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta kepada orang tua dan guru. Cinta kepada ilmu, kebaikan, dan sesama manusia.

Anak-anak Al Jawwad dibesarkan dalam suasana yang penuh kasih sayang, karena kami percaya bahwa hati yang dicintai akan tumbuh menjadi hati yang mampu mencintai. Dari cinta lahir empati. Dari cinta tumbuh akhlak mulia. Dan dari cinta terbentuk karakter yang lembut namun kuat.

🤲 Dermawan

Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli.
Dermawan bukan hanya tentang memberi materi, tetapi tentang kebiasaan berbagi, membantu, dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain.

Sejak dini, anak-anak diajak untuk memahami arti berbagi, merasakan kebahagiaan saat membantu teman, dan menyadari bahwa tangan yang memberi selalu lebih mulia. Kami menanamkan bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk disyukuri dan dibagikan.

🔥 Pejuang

Hidup adalah perjuangan.

Karena itu, Al Jawwad membentuk jiwa-jiwa pejuang: anak-anak yang berani mencoba, tidak mudah menyerah, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan.

Kami melatih mereka untuk bangkit ketika gagal, berusaha ketika sulit, dan tetap berdoa dalam setiap langkah. Pejuang bukan berarti keras, tetapi tangguh. Bukan sekadar berani, tetapi memiliki tujuan dan nilai yang diperjuangkan.


Di Al Jawwad, kami tidak hanya mendidik anak untuk hari ini. Kami membentuk generasi masa depan — generasi yang penuh cinta dalam hatinya, ringan tangan dalam berbagi, dan kuat dalam perjuangannya. Karena kami percaya, ketika cinta menjadi dasar, kedermawanan menjadi kebiasaan, dan semangat juang menjadi karakter, maka lahirlah generasi yang tidak hanya sukses, tetapi juga membawa keberkahan bagi dunia.


Memilih sekolah untuk buah hati bukanlah keputusan sederhana. Masa kanak-kanak adalah fondasi utama pembentukan karakter, kecerdasan, dan kepribadian anak di masa depan. TK Islam Terpadu Al Jawwad hadir sebagai mitra terbaik orang tua dalam menyiapkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

1. Fondasi Akhlak dan Iman Sejak Dini

Di Al Jawwad, pendidikan bukan hanya tentang membaca, menulis, dan berhitung. Kami menanamkan nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas pembelajaran. Anak dibiasakan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, beradab dalam bertutur kata, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Kami percaya bahwa akhlak yang kuat adalah bekal utama kesuksesan dunia dan akhirat.

2. Guru Profesional dan Kompeten

Sebanyak 90% Dewan Guru Al Jawwad telah menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) dan bersertifikasi pendidik. Artinya, anak Anda didampingi oleh tenaga pendidik yang memahami perkembangan anak usia dini secara ilmiah sekaligus mampu mengajar dengan pendekatan yang tepat, sabar, dan penuh kasih. Guru kami tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan menjadi teladan.

3. Pembelajaran Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan

Kami menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada anak (student-centered learning). Kegiatan dirancang interaktif, eksploratif, dan sesuai tahap perkembangan mereka. Melalui bermain sambil belajar, anak-anak mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosial-emosional, dan spiritual secara seimbang.

4. Lingkungan Aman dan Nyaman

Kami memahami bahwa rasa aman adalah kunci anak dapat belajar dengan optimal. Lingkungan sekolah yang tertata, bersih, serta suasana yang hangat membuat anak merasa seperti di rumah sendiri. Orang tua pun dapat merasa tenang karena buah hatinya berada di tempat yang tepat.

5. Kolaborasi Erat dengan Orang Tua

Kami meyakini bahwa pendidikan terbaik lahir dari sinergi antara sekolah dan keluarga. Oleh karena itu, komunikasi dengan orang tua dibangun secara terbuka dan berkesinambungan. Kami tidak hanya mendidik anak, tetapi juga menjadi partner orang tua dalam proses tumbuh kembang mereka.

6. Mempersiapkan Generasi Masa Depan

Al Jawwad tidak hanya mempersiapkan anak untuk jenjang pendidikan berikutnya, tetapi juga membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat. Anak dilatih percaya diri, mandiri, mampu bersosialisasi, serta memiliki kecintaan terhadap ilmu.

Memilih TK Islam Terpadu Al Jawwad berarti memilih pendidikan yang menyentuh hati, mengasah kecerdasan, dan membangun akhlak sejak dini. Kami mengundang Ayah dan Bunda untuk menjadi bagian dari keluarga besar Al Jawwad, tempat tumbuhnya generasi islami yang cerdas, ceria, dan berkarakter.


Asmaul Husna

Gambar: Kompasiana.com

1.    Ar Rahman     الرَّحْمَنُ     Maha Pengasih
2.     Ar Rahiim     الرَّحِيْمُ     Maha Penyayang
3.     Al Malik     المَلِكُ     Maha Merajai
4.     Al Quddus     القُدُّوْسُ     Maha Suci
5.     As Salaam     السَّلاَمُ     Maha Menyelamatkan
6.     Al Mu`min     المُؤْمِنُ    Maha Memelihara Keamanan
7.     Al Muhaimin     المُهَيْمِنُ     Maha Menjaga
8.     Al `Aziiz     العَزِيْزُ     Maha Mulia
9.     Al Jabbar     الجَبَّارُ     Maha Perkasa
10.    Al Mutakabbir     المَُتَكَبِّرُ     Maha Megah
11.     Al Khaliq     الخَالِقُ     Maha Pencipta
12.     Al Baari`     البَارِئُ     Maha Pembuat
13.     Al Mushawwir     المُصَوِّرُ     Maha Pembentuk
14.     Al Ghaffaar     الغَفَّارُ     Maha Pengampun
15.     Al Qahhaar     القَهَّارُ     Maha Pemaksa
16.     Al Wahhaab     الوَهَّابُ     Maha Pemberi
17.     Ar Razzaaq     الرَزَّاقُ     Maha Pemberi Rejeki
18.     Al Fattaah     الفَتَّاحُ     Maha Pembuka
19.     Al `Aliim     العَلِيْمُ     Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20.     Al Qaabidh     القَابِضُ    Maha Menyempitkan
21.     Al Baasith     البَاسِطُ     Maha Melapangkan (makhluknya)
22.     Al Khaafidh     الخَافِضُ     Maha Merendahkan (makhluknya)
23.     Ar Raafi`     الرَافِعُ     Maha Meninggikan (makhluknya)
24.     Al Mu`izz     المُعِزُ     Maha Memuliakan (makhluknya)
25.     Al Mudzil     المُذِلُ     Maha Menghinakan (makhluknya)
26.     As Samii`     السَمِيْعُ     Maha Mendengar
27.     Al Bashiir     البَصِيْرُ     Maha Melihat
28.     Al Hakam     الحَكَمُ     Maha Menetapkan Hukum
29.     Al `Adl     العَدْلُ     Maha Adil
30.     Al Lathiif     اللَّطِيْفُ    Maha Lembut
31.     Al Khabiir     الخَبِيْرُ     Maha Mengenal
32.     Al Haliim     الحَلِيْمُ     Maha Penyantun
33.     Al `Azhiim     العَظِيْمُ    Maha Agung
34.     Al Ghafuur     الغَفُوْرُ     Maha Pengampun
35.     As Syakuur     الشَكُوْرُ     Maha Pembalas Budi
36.     Al `Aliy     العَلِى     Maha Tinggi
37.     Al Kabiir     الكَبِيْرُ    Maha Besar
38.     Al Hafizh     الحَفِيْظُ     Maha Memelihara
39.     Al Muqiit     المُقِيْتُ     Pemberi Kecukupan
40.     Al Hasiib     الحَسِيْبُ     Maha Membuat Perhitungan
41.     Al Jaliil    الجَلِيْلُ    Maha Mulia
42.     Al Kariim     الكَرِيْمُ     Maha Mulia
43.     Ar Raqiib     الرَقِيْبُ     Maha Mengawasi
44.     Al Mujiib     المُجِيْبُ     Maha Mengabulkan
45.     Al Waasi`     الوَاسِعُ     Maha Luas
46.     Al Hakiim     الحَكِيْمُ     Maha Bijaksana
47.     Al Waduud     الوَدُوْدُ     Maha Mengasihi
48.     Al Majiid     المَجِيْدُ     Maha Mulia
49.     Al Baa`its     البَاعِثُ     Maha Membangkitkan
50.     As Syahiid     الشَهِيْدُ     Maha Menyaksikan
51.     Al Haqq     الحَقُّ     Maha Benar
52.     Al Wakiil     الوَكِيْلُ    Maha Memelihara
53.     Al Qawiyyu     القَوِّى     Maha Kuat
54.     Al Matiin     المَتِيْنُ     Maha Kokoh
55.     Al Waliyy     الوَلِى     Maha Melindungi
56.     Al Hamiid     الحَمِيْدُ     Maha Terpuji
57.     Al Muhshii     المُحْصِى     Maha Mengkalkulasi
58.     Al Mubdi`     المُبْدِئُ     Maha Memulai
59.     Al Mu`iid     المُعِيْدُ    Maha Mengembalikan Kehidupan
60.     Al Muhyii     المُحْيِى    Maha Menghidupkan
61.     Al Mumiitu     المُمِيْتُ    Maha Mematikan
62.     Al Hayyu     الحَيُّ     Maha Hidup
63.     Al Qayyuum     القَيُّوْمُ     Maha Mandiri
64.     Al Waajid     الوَاجِدُ     Maha Penemu
65.     Al Maajid     المَاجِدُ     Maha Mulia
66.     Al Wahiid     الوَاحِدُ     Maha Tunggal
67.     Al Ahad     الاَحَدُ     Maha Esa
68.     As Shamad     الصَمَدُ     Maha Tempat Meminta
69.     Al Qaadir     القَادِرُ    Maha Kuasa
70.     Al Muqtadir     المُقْتَدِرُ     Maha Menentukan
71.     Al Muqaddim     المُقَدِّمُ     Maha Mendahulukan
72.     Al Mu`akkhir     المُؤَخِرُ     Maha Mengakhirkan
73.     Al Awwal     الأَوَّلُ    Maha Awal
74.     Al Aakhir     الأَخِرُ    Maha Akhir
75.     Az Zhaahir     الظَاهِرُ     Maha Nyata
76.     Al Baathin     البَاطِنُ     Maha Ghaib
77.     Al Waali     الوَالِي    Maha Memerintah
78.     Al Muta`aalii     المُتَعَالِي     Maha Tinggi
79.     Al Barri     البَرِ     Maha Penderma
80.     At Tawwaab     التَوَّابُ     Maha Penerima Tobat
81.     Al Muntaqim     المُنْتَقِمُ     Maha Pemberi Balasan
82.     Al Afuww     العَفُو     Maha Pemaaf
83.     Ar Ra`uuf     الرَؤُوْفُ     Maha Pengasuh
84.     Malikul Mulk     مَالِكُ الْمُلْك     Maha Penguasa Kerajaan
85.     Dzul Jalaali     ذُو الْجَلاَلِ وَ اْلإِكْرَام     Maha Pemilik
         Wal Ikraam         Kebesaran dan Kemuliaan
86.     Al Muqsith     المُقْسِطُ     Maha Pemberi Keadilan
87.     Al Jamii`     الجَامِعُ     Maha Mengumpulkan
88.     Al Ghaniyy     الغَنِى     Maha Kaya
89.     Al Mughnii     المُغْنِى     Maha Pemberi Kekayaan
90.     Al Maani     المَانِعُ     Maha Mencegah
91.     Ad Dhaar     الضَارُ     Maha Penimpa Kemudharatan
92.     An Nafii`     النَافِعُ     Maha Memberi Manfaat
93.     An Nuur     النُوْرُ     Maha Bercahaya
94.     Al Haadii     الهَادِئُ     Maha Pemberi Petunjuk
95.     Al Baadii     البَدِيْعُ    Maha Pencipta yang Baru
96.     Al Baaqii     البَاقِي     Maha Kekal
97.     Al Waarits     الوَارِثُ     Maha Pewaris
98.     Ar Rasyiid     الرَشِيْدُ     Maha Pandai
99.     As Shabuur     الصَبُوْرُ     Maha Sabar